Categories
-Life Lesson-

2. Kamu Tidak Harus Memaafkan

Photo by Vie Studio from Pexels

Iya, kamu tidak salah membaca judul artikel ini. Kamu tidak memiliki keharusan untuk memaafkan orang yang menyakitimu, tidak pula kamu harus menjadi ibu peri penolong berhati mulia. Kamu bahkan tidak dilarang menyimpan dendam.

Kenapa?

Karena kata “maaf” yang bermakna melepaskan, menerima, dan berdamai, tidak sepantasnya disandingkan dengan kata “harus” yang mengikat, memaksa, dan membelenggu.

Pernahkah kamu berada dalam situasi di mana segalanya terasa begitu menyakitkan? Luka yang menyayat dirimu masih basah, tetapi kamu terus mendapatkan tekanan baik dari dalam dirimu sendiri maupun dari luar untuk mampu segera tersenyum serta memaafkan, ketika kamu bahkan tidak tahu kenapa pula ia yang menyakitimu berhak diberi ampunan.

Ia begitu jahat, tapi kamu harusmenjadi bidadari yang memiliki hati tanpa noda.

Sakit, bukan?

Tapi mengapa harus mendendam?

Aku pernah berada di situasi yang membuatku sulit memaafkan keadaan. Bertahun-tahun pasca kejadian tersebut, luka yang tercipta rupanya begitu dalam. Hingga pada suatu hari, muncul gejala-gejala fisik yang sangat mengganggu kehidupanku. Aku mengalami depresi.

Begitu ditelusuri melalui serangkaian prosedur, akar dari permasalahan psikologisku ternyata berdasar pada aku yang belum berdamai dengan trauma masa lalu. Skor traumaku sangat tinggi, dan harus kuakui, aku menyadari bahwa aku belum sepenuhnya terbebas dari rasa sakit tersebut.

Wah, ternyata, dampak dari ketidakmampuan memaafkan masa lalu dapat begitu parah, ya?

Umumnya, kita memaafkan karena begitulah ajaran orangtua dan agama, tapi pernahkah kita menanyakan diri sendiri, apa yang terjadi dalam diri kita bila kita mendendam? Dan sebaliknya, apa yang terjadi bila kita memaafkan?

Sebuah penelitian yang dipublikasikan Springer menunjukkan bahwa memaafkan berhubungan erat dengan rendahnya tingkat depresi, kecemasan, dan kekerasan. Memaafkan juga berhubungan dengan penurunan tingkat penyalahgunaan obat. Dampak lain yang ditunjukkan dari memaafkan iaah meningkatnya emosi positif, kepuasan hidup, dan juga menurunnya gejala penyakit fisik.

Mengapa? Karena memaafkan dapat membantu kita memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik, alih-alih menekan perasaan atau meledak-ledak dan meluapkan emosi.

Memaksakan diri untuk mampu memaafkan tanpa mengetahui tujuan dari pemaafan tersebut membuatnya terasa begitu menekan dan sulit. Di tengah rasa sakit kita menghadapi peristiwa tersebut, kita masih harus menghadapi tekanan lain untuk memaafkan.

Tapi sebaliknya, menyadari apa yang terjadi dalam diri kita serta memahami bagaimana pemaafan dapat membantu kita pulih justru terasa lebih ringan. Memaafkan tidak seharusnya dilakukan semata-mata memenuhi ekspektasi moral, melainkan untuk membebaskan diri dari rasa sakit.

Alih-alih menjadi keharusan, memaafkan sebaiknya dijadikan sebagai sesuatu yang kita pilih secara sukarela, karena sadar bahwa kita berhak bahagia. Kita berhak terlepas dari rasa sakit yang berpotensi mengurung kita dalam sebuah kotak hitam seumur hidup.

Pertanyaannya, bagaimana? Apa yang harus aku lakukan ketika aku inginmemaafkan namun rasanya begitu sulit?

Photo by Anna Shvets from Pexels

1. Tenangkan dirimu

Jangan mengatakan atau melakukan sesuatu yang mungkin akan kita sesali. Seringkali, ketika emosi memuncak, kita tidak mampu berfikir rasional. Alih-alih menjadi budak luapan emosi, tenangkan diri dan beri pikiran kita kesempatan untuk beristirahat sejenak.

2. Reflect and remember

Kita tidak bisa memulihkan keadaan yang bahkan tak bisa kita sadari. Sebelum mampu memaafkan secara penuh, sadari apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang kita rasakan saat itu? Terluka, marah, kecewa? Bagaimana kita merespon kejadian tersebut? Apa dampak dari kejadian tersebut?

Lihatlah tanpa menggurui, tanpa memberikan penghakiman atas apa yang terjadi. Pertengkaran, pengkhianatan, kekerasan, maupun kejadian traumatis tersebut sudah terjadi. Lihatlah pengalaman tersebut apa adanya dari sudut pandang ketiga. Hal tersebut dapat membantu kita mengevaluasi mana yang nyata dan mana yang hanya ada di pikiran kita.

3. Melepaskan ekspektasi

Beberapa hal memang berada dalam kontrol kita. Namun beberapa sisanya, tidak mampu kita kendalikan. Termasuk apakah orang-orang yang menyakiti kita akan meminta maaf dan menyesali perbuatan.

Kadang, kita sulit memaafkan karena masih terjebak dalam harapan kita mengenai orang lain. Belajarlah untuk melepaskan ekpektasi atas hal yang tidak bisa kita kendalikan, karena hidup lebih berharga untuk dinikmati lebih daripada sekadar mengharapkan yang tidak pasti.

4. Menyadari bahwa pengalaman ini membuatmu belajar

Mungkin rasa sakitnya begitu dalam sampai kita kesulitan menemukan harapan. Tapi kembali ke poin pertama, jika meelihat dari sudut pandang netral, kita akan menyadari bahwa segala yang hadir dalam hidup ini datang untuk membantu kita belajar, bahkan dengan cara yang berat.

5. Memaafkan diri sendiri

Nah, ini yang sulit. Seringkali, ekor dari suatu peristiwa adalah penyesalan karena tidak melakukan x y dan z. Perasaan kecewa, marah, dan menyesal dapat menahan kita dari pertumbuhan positif.

Hei, kita kan manusia. Dan manusia ini tempatnya segala salah dan kekurangan. Tidak apa-apa bila menjadi tidak sempurna. Toh, sebagai manusia kita juga diberikan kemampuan untuk belajar sehingga tidak terjatuh di lubang yang sama dua kali (atau lebih).

Kesimpulannya, kamu tidak harus memaafkan. Kamu tidak dapat memaksakan sesuatu yang bersifat sangat lepas dan bebas. Akan tetapi, memaafkan merupakan satu-satunya cara untuk membantumu bebas dan bertumbuh. Hanya dengan membebaskan dirimu dari luka di masa lalu lah, kamu bisa dengan bebas melangkah menyambut masa depan.

-Nafa Aurellia

Referensi:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s