Categories
-Life Lesson-

1. Finding Serenity in the Simple Things

Photo by Scott Webb from Pexels

Mengintip Kindle Library, Gramedia Digital, serta history belanja bukuku dalam satu bulan terakhir, tema yang paling sering muncul ialah mengenai hidup sederhana (di samping tumpukan novel bertema royal dan nobility, yang sama sekali tidak bisa dibilang sederhana).

Berapa banyak dari kita yang tanpa sadar memandang hidup seolah sebagai sebuah kompetisi? Terus-menerus merasa tertinggal hanya karena orang lain melakukan x y dan z, fear of missing out, atau keinginan untuk menunjukkan pencapaian kita semata-mata guna mendapatkan validasi eksternal. Seolah-olah, kehidupan kita tidak nyata bila tidak dibagikan di sosial media.

Bagaimana dengan multitasking? Kapan terakhir kali kamu memfokuskan seluruh perhatianmu hanya pada satu hal atau kegiatan? Otak kita tebiasa sibuk, hingga kehilangan ruang untuk beristirahat. Padahal, bukankah ide-ide hebat biasanya muncul ketika kita sedang tidak terlalu sibuk? Contohnya, di kamar mandi.

Melalui pengalaman ini, aku mencoba menyederhanakan kompleksitas yang biasanya menjadi bagian dari duniaku melalui hal-hal berikut:

1. Makan dengan sadar

Sejak bertahun-tahun lalu, waktu makanku selalu diselingi berbagai kegiatan. Mulai dari menonton YouTube, membaca, mendengarkan podcast, atau berselancar di sosial media. Dan kini, ketika aku mencoba untuk berfokus pada makananku secara penuh, tanpa sadar makanan tersebut menjadi terasa lebih nikmat dari biasanya.

Mungkin ini efek dari aku yang lebih mampu menghargai setiap proses yang terjadi hingga terciptanya makanan tersebut? Atau karena aku lebih memperhatikan setiap sensasi dan rasa yang tercipta dari suapan yang masuk ke mulutku? Apapun itu, makan menjadi kegiatan yang tidak lagi membosankan sehingga aku butuh hiburan tambahan.

social media scrolling
Photo by Kerde Severin from Pexels

2. Mengurangi sosial media

I was a heavy social media user. Sumpah, dalam sehari aku bisa menghabiskan berjam-jam scrolling dan berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lainnya. Sekarang, aku membatasi penggunaan sosial mediaku menjadi sekitar 5–10 menit untuk Instagam dan 20 menit untuk Twitter.

Aku kira, aku akan ketinggalan banyak hal karena tidak lagi sempat mengamati arus informasi yang begitu cepat. Namun, setelah satu bulan, rupanya aku tidak ketinggalan apapun. Sebaliknya, aku lebih mampu menghargai ketenangan dan terbebas dari membandingkan diri.

3. Berjalan tanpa mendengarkan lagu

Terutama menuju tempat yang sudah sangat familiar, aku selalu menghabiskan waktuku mendengarkan lagu/podcast — bahkan bermain ponsel — alih-alih fokus pada langkah kakiku.

Sejak aku memutuskan untuk lebih fokus saat berjalan kaki, aku mulai menyadari hal-hal kecil di sekitar tempat tinggalku. Contohnya, ternyata tetangga sebelah memiliki pepohonan yang sangat mengkilap. Berjalan juga menjadi sarana membiarkan otakku beristirahat dan memikirkan ide-ide menarik.

4. Menikmati rasa bosan

Di era digital, mudah sekali mencari pelarian dari rasa bosan. Ribuan games yang hanya berjarak satu tombol install, sosial media yang penuh dengan update kehidupan teman-teman, hingga tanpa sadar, kita terbiasa lari dari pikiran kita.

Awalnya sulit, namun seringkali aku membiarkan diriku melamun dan tidak melakukan apapun. Alih-alih membuang waktu, justru aku menemukan berbagai ide menarik atau pemecahan dari masalah yang aku hadapi di kala sibuk.

Iya, termasuk ide 30 hari menulis ini tercetus dari aku yang melamun di tengah krisis eksistensi anak umur 20-an.

10 minutes meditation
Photo by Karolina Grabowska from Pexels

5. 10 menit meditasi

Meditasi sudah menjadi bagian dari wishlist-ku sejak sekian lama. 40 hari terakhir, aku memutuskan untuk kembali melakukan meditasi selama 10 menit di pagi dan malam hari. Bagaimana caranya fokus? Aku mencoba merasakan udara hangat yang keluar dan masuk melalui area di antara hidung dan mulutku (philtrum).

Jika ada pikiran yang muncul, aku mencoba untuk tidak terlalu keras memaksakan diriku berhenti berfikir. Sebaliknya, secara perlahan aku mengarahkan perhatianku kembali ke nafas.

Menikmati hal sederhana sudah menjadi bagian dari hidupku sekarang. Tidak ada yang menjamin datangnya hari esok. Oleh karena itu, aku mencoba menikmati setiap menit yang aku lalui selagi masih bisa bernafas. Hasilnya? Kini aku tidak lagi membutuhkan terlalu banyak stimulasi untuk bisa merasa bahagia.

Aku mulai menemukan keindahan pada hal yang biasa luput dari perhatianku. Aku mulai menemukan yang besar di tengah yang kecil. Karena aku percaya, kebahagiaan bukan ada di sana untuk dikejar, melainkan di sini untuk dirasakan.

– Nafa Aurellia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s